Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image

Brand New Town

  • Thursday, July 18, 2013
  • Gunmen
  • Labels:
  • Maumere, 18 Juli 2013
    Malam yang dingin pukul 20.13

    Hai, apa kabar para pembaca yang budiman? Beberapa bulan lewat semenjak aku berbagi isi kepalaku di blog ini. Beberapa bulan lewat semenjak aku mengakhiri rutinitasku di Denpasar. Yaah, tuntutan pekerjaan yang membuat autobiografiku harus berisikan riwayatku di kota ini, Maumere manise. Aku tidak bisa bilang aku senang dipindah jauh dari rumah, walaupun kata orang tua anak muda harus melihat dunia, tapi manusia yang dipaksa beranjak dari posisi nyamannya pasti akan merasa keberatan.

     But, take it or leave it..


    Of course I have to take it, aku tidak cukup hebat untuk mampu berkata “f*ck the system, f*ck the gov, and f*ck the boss” , in fact, setelah apa yang aku lalui, aku justru bangga dengan pekerjaanku. Memang terkesan sedikit naïf, tapi kalau bukan karena pekerjaanku ini, aku tak akan pernah mendapat kesempatan melengkapi komik autobiografi Buddha’nya Osamu Tezuka dan menikmati indahnya Flores --pantai koka, pulau pangabatan yang tak berpenghuni, danau kalimutu dll. 

    beberapa buku yg mengubah hidupku
    Satu hal yang kusadari di momen-momen seperti ini, saat berada di suatu “point of desperation” dan mencoba berdamai dengan keadaan, kita akan memperoleh suatu kebijaksanaan (wisdom) hidup. 

    Hal lain yang aku sadari disini adalah saat sedikit waktu senggangmu yang bisa kau gunakan untuk mencari hiburan di luar, kau akan mulai banyak berpikir..




    ****
    Memulai hidup di tempat baru itu susah, apalagi bukan tempat yang aku duga sebelumnya, tapi aku rasa aku cukup hebat dalam urusan adaptasi. Umur 15 aku tinggalkan kehidupan rumah untuk belajar ke Kota Madya Denpasar, umur 18 aku tinggalkan Denpasar menuju Ibu Kota demi gelar diploma.  
    Di Denpasar aku bertemu banyak kawan baru, belajar mengucapkan “ke” sebagai ganti kata “kamu”. Di Ibu Kota, aku satu losmen (kost) dengan Daeng – Daeng dari Makassar, sampai saat itu aku tidak tahu kalau Makassar dan Mataram dua daerah yang berjauhan. Di Ibu Kota pula aku belajar menggunakan diksi “lo” dan “gue” sebagai pengganti “kamu” dan “aku” layaknya film-film prime time  di SCTV  dengan logat khas Bali yang tidak bisa hilang...


    Sekarang, disini, aku pelan-pelan belajar bilang “su” , yang artinya “sudah”…

    ****


    Disaat terburuk pun akan selalu ada hal baik yang bisa dilihat walaupun hanya sekedar pelarian..
    ride or die, lets the show begins..
    • Share

    6 comments:

    Anonymous said...

    Salam buat nona-nona Maumere..

    mar said...

    sing diklat" to ge??
    apakah angkatan saya akan menyusul, tolong dibantu aja ntar ge :D

    Unknown said...

    Autobiografi itu biografi yg ditulis sendiri sama penulisnya.

    Nasionalis Rock n Roll said...

    ^
    this guy must be fun at party


    "... merantaulah. gapai setinggi2nya impianmu
    Bepergianlah. Maka ada lima keutamaan untukmu
    melipur duka dan memulai penghidupan baru
    memperkaya budi, pergaulan yg terpuji
    serta meluarkan ilmu..."

    (puisi Imam Syafii, 3rd trilogi Negeri 5 Menara)

    Nasionalis Rock n Roll said...

    write something geee....

    Gunmen said...

    hahaha santai wo, tar laah

    Post a Comment

    (c) All Right Reserved 2011 This Is who I really am. Blogger template by Bloggermint